Pekan ini saya mengobrol dengan seorang pemilik toko online di Bandung. Keluhannya klasik: “Kang, iklan saya terus cari pembeli baru, padahal pelanggan lama yang sudah tiga bulan tidak belanja itu lebih gampang diajak balik.” Dua hari kemudian, Google Ads merilis fitur yang menjawab persis keluhan itu. Di hari yang sama, Google juga memperjelas bahwa data Gmail dan Google Photos yang dihubungkan pengguna ke AI-nya bisa ikut membentuk iklan yang mereka lihat.
Dunia AI bergerak cepat, tapi tidak semua kabar perlu Anda kejar. Di catatan kali ini saya memilih lima update dari 21–24 Oktober 2026 yang paling terasa dampaknya buat pebisnis dan marketer di Indonesia: dari iklan, privasi data, arah ekonomi AI nasional, sampai “pensiunnya” model AI lama yang mungkin masih menopang sistem bisnis Anda.
Ringkasan cepat (TL;DR):
- Google Ads memperluas customer lifecycle goals (tujuan siklus hidup pelanggan): mode retensi kini tersedia di Performance Max, Search, dan Shopping.
- Kebijakan privasi Google kini menyebut data Gmail/Photos yang dihubungkan ke Personal Intelligence bisa dipakai untuk personalisasi iklan.
- Menko Airlangga memproyeksikan ekonomi AI Indonesia mencapai US$360–400 miliar pada 2030.
- Anthropic menyerahkan standar Agent Skills ke Agentic AI Foundation (Linux Foundation); sudah dipakai 70+ platform.
- OpenAI resmi mematikan akses API untuk model lama seperti GPT-4, GPT-3.5 Turbo, o1, dan o3-mini per 23 Oktober 2026.
1. Google Ads Kini Bisa Fokus Memanggil Pelanggan Lama
Pada 22 Oktober 2026, Google mengumumkan tiga pembaruan customer lifecycle goals yang digulirkan sepanjang Oktober. Pertama, High Value mode (mode pelanggan bernilai tinggi) diperluas ke kampanye Shopping. Kedua, customer retention goals (tujuan retensi pelanggan) hadir di Performance Max, Search, dan Shopping, termasuk Re-engagement mode untuk pelanggan yang sudah lama tidak membeli dan Retention Only mode untuk kampanye yang hanya menyasar segmen pelanggan tertentu. Ketiga, percentage multipliers (pengali bid berbasis persentase nilai keranjang) keluar dari tahap beta untuk Search, Shopping, Performance Max, dan Demand Gen.
Artinya buat bisnis/marketer: selama ini algoritma iklan cenderung “rakus” mengejar konversi termurah, dan sering kali itu justru pelanggan lama yang sebenarnya akan membeli juga tanpa iklan. Sekarang Anda bisa memisahkan anggaran: mana untuk akuisisi, mana untuk membangunkan pelanggan tidur. Menjelang Harbolnas 12.12, ini relevan sekali.
- Rapikan data pelanggan (email/nomor HP) dan unggah ke Customer Match (pencocokan pelanggan). Tanpa data pihak pertama yang bersih, mode retensi tidak akan bekerja optimal.
- Uji satu kampanye kecil dengan Re-engagement mode untuk pelanggan yang tidak belanja 3–12 bulan terakhir, lalu bandingkan biayanya dengan kampanye akuisisi.
- Cek akun Anda secara berkala karena peluncurannya bertahap; tidak semua akun mendapat fitur ini di waktu yang sama.
2. Data Gmail dan Google Photos Bisa Jadi Sinyal Iklan
Android Authority (23/10) dan The Hacker News (24/10) melaporkan perubahan kebijakan privasi Google yang berlaku sejak 16 Oktober 2026. Intinya: jika pengguna mengaktifkan Personal Intelligence dan menghubungkan Gmail atau Google Photos ke AI Mode di Search atau Gemini, data yang diizinkan itu bisa diproses untuk mempersonalisasi konten, termasuk iklan. Secara bawaan (default), Google tetap menyatakan tidak memakai isi Gmail, Drive, atau Photos untuk iklan. Fitur Personal Intelligence sendiri digulirkan sebagai beta untuk pengguna 18+ di seluruh dunia, kecuali Wilayah Ekonomi Eropa, Swiss, Inggris, dan Nigeria.
Artinya buat bisnis/marketer: penargetan iklan Google makin bergeser dari kata kunci ke “konteks hidup” pengguna. Dari sisi pengiklan ini peluang, karena relevansi naik. Dari sisi konsumen, ini soal kepercayaan. Brand yang ceroboh memakai data akan cepat kena tegur publik, apalagi dengan UU Pelindungan Data Pribadi yang sudah berlaku.
- Jangan mengejar penargetan “terlalu pribadi” di materi iklan. Pesan yang terasa seperti “kok tahu?” bisa berbalik jadi rasa tidak nyaman.
- Sebagai pengguna, cek pengaturan di google.com/search-personalization dan putuskan aplikasi mana yang mau dihubungkan.
- Perkuat konten yang menjawab kebutuhan nyata, karena AI Mode makin pandai mencocokkan iklan dengan konteks percakapan.
3. Pemerintah: Ekonomi AI Indonesia Bisa Tembus US$400 Miliar pada 2030
Dalam AI Impact Summit: Sovereign AI for Indonesia 2045 di rangkaian Bali Tech Week (21/10), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan skala ekonomi AI nasional mencapai US$360–400 miliar (sekitar Rp6.499–7.221 triliun) pada 2030. Empat prioritas disebut: infrastruktur digital dan energi, talenta (target 9 juta talenta digital pada 2030), percepatan adopsi AI (dengan 229 juta pengguna internet dan 22 juta UMKM digital), serta tata kelola dan kolaborasi global termasuk Project NUSA bersama Singapura. Menurut Katadata, Airlangga juga menegaskan Indonesia tidak butuh “badut AI”, melainkan implementasi nyata yang berdampak.
Artinya buat bisnis/marketer: angka triliunan itu bukan otomatis rezeki. Ia baru jadi nyata kalau bisnis benar-benar memakai AI untuk produktivitas, bukan sekadar pajangan. Tantangan infrastruktur juga nyata, seperti yang pernah saya bahas di catatan soal kebutuhan listrik 20 GW untuk data center AI.
- Pilih satu proses yang paling makan waktu (misalnya membalas chat pelanggan atau membuat laporan) dan ukur hasil sebelum–sesudah memakai AI.
- Manfaatkan program pemerintah seperti Digital Talent Scholarship untuk meningkatkan kemampuan tim.
- Hindari proyek AI “gaya-gayaan” tanpa metrik bisnis yang jelas.
4. Agent Skills Jadi Standar Terbuka di Bawah Linux Foundation
Pada 22 Oktober 2026, Anthropic mengumumkan penyerahan standar Agent Skills ke Agentic AI Foundation (AAIF), yayasan di bawah Linux Foundation. Agent Skills adalah “paket keahlian” berupa folder berisi file SKILL.md, skrip, dan referensi yang mengajari agen AI cara mengerjakan tugas tertentu. Menurut Anthropic, standar ini sudah diintegrasikan lebih dari 70 platform, termasuk ChatGPT, Cursor, GitHub Copilot, dan VS Code, dengan 1 juta skill dipublikasikan dan hampir 280 juta kali dipasang. Di hari yang sama, Claude versi kelolaan Anthropic juga tersedia umum (generally available) di Google Cloud.
Artinya buat bisnis/marketer: SOP bisnis Anda kini bisa “dikemas” sekali dan dipakai lintas platform AI, tidak terkunci di satu vendor. Ini mirip dengan masa ketika email jadi standar terbuka: siapa yang lebih dulu mendokumentasikan cara kerjanya, dia yang lebih cepat menskalakan.
- Tuliskan SOP yang paling sering diulang (brief iklan, format laporan, balasan keluhan) dalam bahasa yang jelas dan langkah demi langkah.
- Mulai uji SOP itu sebagai skill di asisten AI yang Anda pakai, lalu perbaiki dari hasilnya.
- Pasang skill hanya dari sumber tepercaya; perlakukan seperti memasang aplikasi di laptop kantor.
5. OpenAI Matikan Model Lama: Cek Integrasi Bisnis Anda
Menurut halaman deprecations resmi OpenAI, akses API ke sejumlah model lama dihentikan per 23 Oktober 2026, antara lain gpt-3.5-turbo, gpt-4, gpt-4-turbo, gpt-4o-2024-05-13, gpt-4.1-nano, o1, o1-pro, o3-mini, o4-mini, dan gpt-image-1, termasuk beberapa model fine-tune (hasil penyesuaian) di atasnya. OpenAI merekomendasikan pengganti dari keluarga gpt-5.6. Analisis pihak ketiga menyebut biaya untuk pengguna model murah bisa naik, sementara pengguna model mahal justru bisa turun.
Artinya buat bisnis/marketer: banyak chatbot WhatsApp, plugin website, atau otomasi lama dibangun vendor bertahun-tahun lalu dengan model ini. Jika tiba-tiba error sejak Jumat, kemungkinan besar inilah penyebabnya. Ini juga pengingat bahwa risiko AI bukan cuma soal keamanan, seperti celah PHP yang ditemukan dengan bantuan AI yang saya bahas kemarin, tapi juga soal kelangsungan layanan.
- Tanyakan ke vendor atau tim IT: model apa yang dipakai chatbot dan otomasi Anda?
- Uji ulang kualitas jawaban setelah migrasi, jangan hanya memastikan “sudah jalan”.
- Hitung ulang biaya per bulan dan bandingkan dengan model generasi terbaru yang bisa lebih murah.
Baca Juga: Indonesia Tentukan Laju AI Sendiri, Agen OpenAI Bandel: 4 Update AI untuk Pebisnis (Oktober 2026)
Jadi, Apa yang Perlu Dilakukan Sekarang?
Saya selalu memakai kerangka sederhana dari Playing to Win: tentukan dulu Where to Play (di mana Anda bermain), lalu How to Win (bagaimana Anda menang).
- Where to Play: untuk kuartal akhir 2026, arena paling realistis adalah pelanggan yang sudah Anda miliki. Mode retensi Google Ads dan data pihak pertama membuat arena ini makin “murah” untuk dimenangkan dibanding berebut pelanggan baru di puncak musim belanja.
- How to Win: menangkan lewat kepercayaan dan sistem. Kelola data pelanggan secara etis, dokumentasikan SOP agar bisa dijalankan agen AI, dan pastikan teknologi di balik layanan Anda tidak memakai model yang sudah pensiun.
Kalau harus memilih satu langkah minggu ini: audit data pelanggan Anda. Hampir semua update di atas (retensi iklan, personalisasi, agen AI) bertumpu pada satu hal yang sama, yaitu data pihak pertama yang rapi dan diperoleh dengan izin.
AI tidak menggantikan strategi. AI hanya mempercepat apa pun yang sudah Anda putuskan, termasuk keputusan yang keliru.
Kang Yudha
Dari lima update ini, mana yang paling terasa di bisnis Anda? Ceritakan di kolom komentar, saya baca satu per satu.
Sumber
- Google: Three updates to customer lifecycle goals
- Search Engine Roundtable: Google Ads Updates To Customer Lifecycle Goals
- Android Authority: Google privacy policy and Personal Intelligence
- The Hacker News: Gmail and Photos Data Could Be Used for Targeted Ads
- Antara Bali: Airlangga sebut AI jadi mesin pertumbuhan ekonomi baru
- Katadata: Pemerintah Incar AI Jadi Mesin Ekonomi RI
- Anthropic: Donating Agent Skills to the Agentic AI Foundation
- Simon Willison: Donating Agent Skills
- OpenAI: API Deprecations
- Nadir: OpenAI October 23 model retirement and pricing
Leave a Reply