Kang Yudha Herbaputra #catatankangyudha

Google Ads Bidik Pelanggan Lama, Data Gmail Bisa Jadi Sinyal Iklan: 5 Update AI untuk Pebisnis & Marketer (Oktober 2026)

Pekan ini saya mengobrol dengan seorang pemilik toko online di Bandung. Keluhannya klasik: “Kang, iklan saya terus cari pembeli baru, padahal pelanggan lama yang sudah tiga bulan tidak belanja itu lebih gampang diajak balik.” Dua hari kemudian, Google Ads merilis fitur yang menjawab persis keluhan itu. Di hari yang sama, Google juga memperjelas bahwa data Gmail dan Google Photos yang dihubungkan pengguna ke AI-nya bisa ikut membentuk iklan yang mereka lihat.

Dunia AI bergerak cepat, tapi tidak semua kabar perlu Anda kejar. Di catatan kali ini saya memilih lima update dari 21–24 Oktober 2026 yang paling terasa dampaknya buat pebisnis dan marketer di Indonesia: dari iklan, privasi data, arah ekonomi AI nasional, sampai “pensiunnya” model AI lama yang mungkin masih menopang sistem bisnis Anda.

Ringkasan cepat (TL;DR):

1. Google Ads Kini Bisa Fokus Memanggil Pelanggan Lama

Pada 22 Oktober 2026, Google mengumumkan tiga pembaruan customer lifecycle goals yang digulirkan sepanjang Oktober. Pertama, High Value mode (mode pelanggan bernilai tinggi) diperluas ke kampanye Shopping. Kedua, customer retention goals (tujuan retensi pelanggan) hadir di Performance Max, Search, dan Shopping, termasuk Re-engagement mode untuk pelanggan yang sudah lama tidak membeli dan Retention Only mode untuk kampanye yang hanya menyasar segmen pelanggan tertentu. Ketiga, percentage multipliers (pengali bid berbasis persentase nilai keranjang) keluar dari tahap beta untuk Search, Shopping, Performance Max, dan Demand Gen.

Artinya buat bisnis/marketer: selama ini algoritma iklan cenderung “rakus” mengejar konversi termurah, dan sering kali itu justru pelanggan lama yang sebenarnya akan membeli juga tanpa iklan. Sekarang Anda bisa memisahkan anggaran: mana untuk akuisisi, mana untuk membangunkan pelanggan tidur. Menjelang Harbolnas 12.12, ini relevan sekali.

2. Data Gmail dan Google Photos Bisa Jadi Sinyal Iklan

Android Authority (23/10) dan The Hacker News (24/10) melaporkan perubahan kebijakan privasi Google yang berlaku sejak 16 Oktober 2026. Intinya: jika pengguna mengaktifkan Personal Intelligence dan menghubungkan Gmail atau Google Photos ke AI Mode di Search atau Gemini, data yang diizinkan itu bisa diproses untuk mempersonalisasi konten, termasuk iklan. Secara bawaan (default), Google tetap menyatakan tidak memakai isi Gmail, Drive, atau Photos untuk iklan. Fitur Personal Intelligence sendiri digulirkan sebagai beta untuk pengguna 18+ di seluruh dunia, kecuali Wilayah Ekonomi Eropa, Swiss, Inggris, dan Nigeria.

Artinya buat bisnis/marketer: penargetan iklan Google makin bergeser dari kata kunci ke “konteks hidup” pengguna. Dari sisi pengiklan ini peluang, karena relevansi naik. Dari sisi konsumen, ini soal kepercayaan. Brand yang ceroboh memakai data akan cepat kena tegur publik, apalagi dengan UU Pelindungan Data Pribadi yang sudah berlaku.

3. Pemerintah: Ekonomi AI Indonesia Bisa Tembus US$400 Miliar pada 2030

Dalam AI Impact Summit: Sovereign AI for Indonesia 2045 di rangkaian Bali Tech Week (21/10), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan skala ekonomi AI nasional mencapai US$360–400 miliar (sekitar Rp6.499–7.221 triliun) pada 2030. Empat prioritas disebut: infrastruktur digital dan energi, talenta (target 9 juta talenta digital pada 2030), percepatan adopsi AI (dengan 229 juta pengguna internet dan 22 juta UMKM digital), serta tata kelola dan kolaborasi global termasuk Project NUSA bersama Singapura. Menurut Katadata, Airlangga juga menegaskan Indonesia tidak butuh “badut AI”, melainkan implementasi nyata yang berdampak.

Artinya buat bisnis/marketer: angka triliunan itu bukan otomatis rezeki. Ia baru jadi nyata kalau bisnis benar-benar memakai AI untuk produktivitas, bukan sekadar pajangan. Tantangan infrastruktur juga nyata, seperti yang pernah saya bahas di catatan soal kebutuhan listrik 20 GW untuk data center AI.

4. Agent Skills Jadi Standar Terbuka di Bawah Linux Foundation

Pada 22 Oktober 2026, Anthropic mengumumkan penyerahan standar Agent Skills ke Agentic AI Foundation (AAIF), yayasan di bawah Linux Foundation. Agent Skills adalah “paket keahlian” berupa folder berisi file SKILL.md, skrip, dan referensi yang mengajari agen AI cara mengerjakan tugas tertentu. Menurut Anthropic, standar ini sudah diintegrasikan lebih dari 70 platform, termasuk ChatGPT, Cursor, GitHub Copilot, dan VS Code, dengan 1 juta skill dipublikasikan dan hampir 280 juta kali dipasang. Di hari yang sama, Claude versi kelolaan Anthropic juga tersedia umum (generally available) di Google Cloud.

Artinya buat bisnis/marketer: SOP bisnis Anda kini bisa “dikemas” sekali dan dipakai lintas platform AI, tidak terkunci di satu vendor. Ini mirip dengan masa ketika email jadi standar terbuka: siapa yang lebih dulu mendokumentasikan cara kerjanya, dia yang lebih cepat menskalakan.

5. OpenAI Matikan Model Lama: Cek Integrasi Bisnis Anda

Menurut halaman deprecations resmi OpenAI, akses API ke sejumlah model lama dihentikan per 23 Oktober 2026, antara lain gpt-3.5-turbo, gpt-4, gpt-4-turbo, gpt-4o-2024-05-13, gpt-4.1-nano, o1, o1-pro, o3-mini, o4-mini, dan gpt-image-1, termasuk beberapa model fine-tune (hasil penyesuaian) di atasnya. OpenAI merekomendasikan pengganti dari keluarga gpt-5.6. Analisis pihak ketiga menyebut biaya untuk pengguna model murah bisa naik, sementara pengguna model mahal justru bisa turun.

Artinya buat bisnis/marketer: banyak chatbot WhatsApp, plugin website, atau otomasi lama dibangun vendor bertahun-tahun lalu dengan model ini. Jika tiba-tiba error sejak Jumat, kemungkinan besar inilah penyebabnya. Ini juga pengingat bahwa risiko AI bukan cuma soal keamanan, seperti celah PHP yang ditemukan dengan bantuan AI yang saya bahas kemarin, tapi juga soal kelangsungan layanan.

Jadi, Apa yang Perlu Dilakukan Sekarang?

Saya selalu memakai kerangka sederhana dari Playing to Win: tentukan dulu Where to Play (di mana Anda bermain), lalu How to Win (bagaimana Anda menang).

Kalau harus memilih satu langkah minggu ini: audit data pelanggan Anda. Hampir semua update di atas (retensi iklan, personalisasi, agen AI) bertumpu pada satu hal yang sama, yaitu data pihak pertama yang rapi dan diperoleh dengan izin.

AI tidak menggantikan strategi. AI hanya mempercepat apa pun yang sudah Anda putuskan, termasuk keputusan yang keliru.

Kang Yudha

Dari lima update ini, mana yang paling terasa di bisnis Anda? Ceritakan di kolom komentar, saya baca satu per satu.

Sumber

Exit mobile version