Kang Yudha Herbaputra #catatankangyudha

Iklan ChatGPT Makin Murah, Google Pasang Iklan di AI Mode: 5 Update AI untuk Marketer (Oktober 2026)

Minggu lalu saya ngobrol dengan seorang pemilik bisnis kursus online. Pertanyaannya sederhana: “Kang, iklan di ChatGPT itu masih mahal nggak sih? Dan katanya Google sekarang mulai pasang iklan di jawaban AI juga?” Saya jawab jujur: dua-duanya sedang bergerak sangat cepat, dan pekan ini datanya makin jelas.

Dalam rentang 12–19 Oktober 2026, ada lima update AI yang menurut saya paling relevan untuk pebisnis dan marketer di Indonesia: harga iklan ChatGPT turun, Google menguji iklan di AI Mode yang dipersonalisasi, Google Ads memberi kontrol anggaran per channel, Google meluncurkan Universal Cart, dan Komdigi makin serius soal deepfake (konten palsu buatan AI). Mari kita bedah satu per satu, lengkap dengan langkah praktisnya.

1. Harga Iklan ChatGPT Turun, Jumlah Pengiklan Melonjak Tiga Kali Lipat

Menurut laporan The Information (15 Oktober 2026) yang dirangkum Shopifreaks, jumlah bisnis yang beriklan di ChatGPT naik sekitar tiga kali lipat menjadi ±60.000 antara akhir Agustus dan awal Oktober (mengutip New Street Research). OpenAI memangkas harga iklan dan merekrut puluhan mantan staf Meta untuk tim penjualan iklannya. Seorang pendiri agensi menyebut kliennya di sektor software bisnis membayar sekitar US$5 per klik di ChatGPT, dibanding US$30–50 per klik di Google untuk kategori serupa.

Satu catatan objektif: angka per klik itu adalah klaim satu agensi untuk satu kategori, bukan rata-rata resmi. Laporan yang sama juga menyebut pendapatan iklan OpenAI kemungkinan meleset dari target investor 2026. Artinya, OpenAI sedang “membeli” pengiklan dengan harga murah.

Artinya buat bisnis/marketer: ini fase early adopter (pengguna awal) — biaya masih rendah karena kompetisi belum padat. Kalau Anda sudah membaca catatan saya soal ChatGPT Ads masuk Indonesia, sekarang saatnya beralih dari “nonton” ke “tes kecil”.

2. Google Mulai Uji Iklan di AI Mode yang Dipersonalisasi Data Gmail & Photos

Search Engine Land (16 Oktober 2026) melaporkan, dan Google mengonfirmasi, bahwa Google menguji iklan di AI Mode untuk pengguna yang menghubungkan aplikasinya lewat fitur Personal Intelligence (kecerdasan personal). AI Mode yang dulu bebas iklan kini mulai berubah. Google menegaskan iklan “tidak didasarkan langsung” pada isi Gmail atau Google Photos, pengiklan tidak bisa mengakses data itu, dan kategori sensitif dikecualikan. Belum ada kontrol baru untuk pengiklan, opsi targeting, maupun jadwal perluasan, dan pasar uji cobanya belum disebutkan.

Artinya buat bisnis/marketer: jawaban AI makin menjadi “etalase” iklan. Ke depan, yang menang bukan hanya yang punya bid tertinggi, tapi yang kontennya paling relevan dengan konteks percakapan pengguna.

3. Google Ads Hadirkan Channel Prioritization: Anda yang Atur ke Mana Anggaran Mengalir

Pada 14 Oktober 2026, Google resmi mengumumkan channel prioritization (prioritas channel) dan budget allocation (alokasi anggaran). Pengiklan bisa menandai channel sebagai prioritas tinggi atau rendah; channel prioritas tinggi didanai lebih dulu, dan untuk channel prioritas rendah Anda bisa menetapkan batas maksimal persentase anggaran harian. Fitur ini berlaku untuk Search, Shopping, Performance Max, dan Demand Gen, dan digulirkan global dalam beberapa bulan ke depan. Mulai Februari 2027, pengaturan lama untuk Search dengan Display Network akan dihapus.

Artinya buat bisnis/marketer: setelah bertahun-tahun automation terasa seperti “kotak hitam”, akhirnya ada tuas kontrol. Ini kabar baik bagi UMKM yang sering mengeluh anggaran bocor ke Display atau Search Partners.

4. Universal Cart: Google Menyatukan Belanja Lintas Toko di Search dan Gemini

9to5Google (15 Oktober 2026) melaporkan Google mulai menggulirkan Universal Cart di Amerika Serikat, lewat Google Search (termasuk AI Mode) dan aplikasi Gemini. Satu keranjang bisa menampung produk dari banyak retailer, memantau penurunan harga, mencari kode promo dan penawaran kartu, lalu checkout didukung Universal Commerce Protocol (UCP). Untuk saat ini, fitur ini belum tersedia di Indonesia.

Artinya buat bisnis/marketer: perjalanan belanja makin pendek dan makin dikendalikan AI. Toko yang datanya tidak rapi (harga, stok, gambar) berisiko tidak “terlihat” oleh asisten belanja.

5. Komdigi Dorong Label Konten AI dan Tanggung Jawab Deteksi Deepfake

Di dalam negeri, Bisnis.com (14 Oktober 2026) memberitakan Wamenkomdigi Nezar Patria menyatakan tanggung jawab deteksi deepfake “harus pertama-tama dibebankan kepada platform”, serta mendorong pendekatan provenance and authenticity (penelusuran asal-usul dan keaslian konten). Lalu Okezone (18 Oktober 2026) melaporkan Wamenkomdigi Angga Raka Prabowo menyebut Komdigi sedang mengkaji peraturan menteri tentang pelabelan konten berbasis AI, menyusul maraknya konten karhutla palsu buatan AI.

Artinya buat bisnis/marketer: konten iklan berbasis AI (model virtual, suara sintetis, testimoni visual) akan makin disorot. Aturannya memang belum terbit, tapi arahnya jelas: transparansi.

Jadi, Apa yang Perlu Dilakukan Sekarang?

Saya selalu memakai kerangka sederhana dari Playing to Win: tentukan Where to Play (di mana bertanding) lalu How to Win (bagaimana menang).

Tidak semua update harus dikejar hari ini. Pilih satu yang paling dekat dengan bisnis Anda, uji 2–4 minggu, lalu ukur.

Teknologi berubah setiap minggu, tapi prinsipnya tetap: yang paling cepat belajar dan paling jujur kepada pelanggan, dialah yang menang.

Dari lima update di atas, mana yang paling berdampak untuk bisnis Anda? Tulis di kolom komentar, saya ingin tahu pengalaman Anda.

Sumber

Exit mobile version